001

PJ305, 07, 09, …

Raifan berjalan menyusuri lorong.

…11, 13. Ini dia.

Ia menghitung dengan longkap sebab kamar asrama itu terdapat di kedua sisi lorong.

Beberapa waktu yang lalu, ia baru saja tiba di SMAPD Langit seusai menempuh perjalanan panjang bersama-sama para siswa baru lainnya dengan menaiki «Bris».

«Bris» adalah kendaraan berukuran besar yang digerakkan oleh distorsi. Biasanya bris berkapasitas 50 orang seperti yang tadi dinaiki Raifan menggunakan «Penggerak Bris» sebanyak 6 orang yang saling bergantian ditambah satu orang «Brisian».

«Kendaraan Bertenaga Distorsi» mulai menggantikan tenaga kuda 20 tahun silam. Kendaraan-kendaraan ini memanfaatkan hukum mekanika fisika untuk mengamplifikasi gerakan hasil distorsi penggunanya untuk memutar roda dengan tenaga yang kecil.

Sekarang, bukan hanya moda transportasi darat yang digerakkan oleh distorsi. Dari kapal laut sampai pesawat udara yang ditemukan beberapa tahun lalu semuanya memakai tenaga distorsi.

Distorsi sudah menjadi nadi kehidupan masyarakat.

Mengenai mengapa Raifan dan siswa-siswi baru lainnya harus menaiki bris agar dapat sampai ke sini, sebabnya adalah letak SMAPD Langit yang terpencil.

Bukan hanya SMAPD Langit, semua SMA Penulis Distorsi lainnya juga terletak di daerah terpencil dan menggunakan sistem asrama.

Tujuannya adalah agar siswa terbebas dari segala macam huru hara kehidupan dan fokus pada tugas utama mereka yaitu belajar, kata pemerintah.

Namun, sudah menjadi rahasia umum tujuan pemerintah sebenarnya bukan itu.

“Eh, tadi kuncinya dimana?” Gumam Raifan pelan sembari ia merogoh-rogoh saku celananya. Di samping ia berdiri bertumpuk tiga buah koper besar berisi pakaian, buku-buku dan alat tulis, dan perlengkapan-perlengkapan lainnya yang menjadi bekal Raifan untuk tinggal di sini.

Tadi seusai turun dari bris, Raifan dan siswa-siswi lainnya langsung berbaris berdasarkan gedung asrama yang akan mereka tinggali. Pembagiannya tertera di papan pengumuman yang terpancang di depan kompleks SMAPD Langit. Biasanya papan itu digunakan untuk menginformasikan hal yang perlu diketahui pengunjung, seperti prosedur mendapatkan kartu tanda pengunjung, peraturan yang harus dipatuhi selama berada di dalam kompleks SMAPD, persyaratan menemui siswa, dan hal-hal lain sejenisnya. Namun khusus untuk hari ini, semua itu dilepas dan digantikan dengan pengumuman kamar dan gedung asrama siswa baru.

Raifan mendapat kamar nomor PJ313.

Total gedung asrama adalah 20 — sama seperti jumlah bris yang memindahkan para siswa baru, 10 untuk laki-laki dan 10 untuk perempuan. Dari sinilah awalan P atau W dalam nomor kamar berasal, ‘Pria’ atau ‘Wanita’.

Sedangkan huruf kedua dalam nomor kamar adalah nama gedung yang ada. Sepuluh gedung yang dimiliki masing-masing asrama pria maupun wanita dinamai gedung A sampai gedung J.

Digit ketiga menunjukkan lantai. Ini berarti Raifan berkamar di lantai 3, lantai tertinggi, sama seperti semua siswa baru lainnya. Sementara, anak kelas dua berkamar di lantai 2 dan anak kelas tiga berkamar di lantai 1. Makin senior makin sedikit tangga yang dipanjat, begitu filosofinya.

Dua angka terakhir adalah nomor kamar. Setiap lantai memiliki sejumlah 25 kamar bernomor 1 hingga 25. Satu kamar memiliki dua penghuni sehingga secara keseluruhan ada 50 orang penghuni per lantai.

Raifan berada di posisi terdepan barisan calon penghuni gedung J — gedung J pria tentunya. Di samping kanannya adalah barisan wanita pertama, sementara di sebelah kirinya tiga buah koper bawaannya setia mendampingi. Masih banyak siswa-siswi yang sedang menyusun barisan atau baru melihat pengumuman kamar.

Hari sudah gelap.

Mengingat tadi mereka berangkat saat matahari mulai beranjak naik, ini menandakan seberapa jauh dan terpencil lokasi mereka sekarang.

Tapi meskipun begitu, gedung di hadapan mereka sedikit pun tak terasa layaknya bangunan rapuh seperti yang dibayangkan  jika berkunjung ke desa terpencil.

Didominasi warna putih. Memancarkan kesan megah bagai istana. Seakan mendeklarasikan bahwa ia pantas menjadi tempat menuntut ilmu bagi siswa-siswi terbaik di negeri ini.

Lapangan aspal tempat para siswa berbaris diterangi lampion-lampion berdesain elegan yang melayang di sana-sini, hasil dari sebuah distorsi khusus yang kompleks. Cahayanya cukup untuk membuat orang yang dinaunginya mengenali wajah orang lain dengan jelas, namun tak mampu memudarkan indahnya cahaya bintang di langit.

Indah… Jangan-jangan ini sebabnya sekolah ini dinamain ‘Langit’…?

—Walau Raifan paham kalau mungkin juga tak ada sangkut pautnya sama sekali, pikiran itu tetap saja melintas di benaknya.

Meski Raifan berasal dari keluarga yang cukup mapan, jarang ia melihat pemandangan di hadapannya. Biasanya hanya tempat-tempat setingkat hotel berbintang yang menggunakan penerangan malam sekelas ini. Sekali lagi Raifan teringat betapa bergengsi dan mahalnya sekolah yang ia masuki.

Terdengar suara sejumlah anak-anak lain di belakang Raifan yang mulai saling berkenalan satu sama lain sembari menunggu semuanya selesai berbaris. Sesungguhnya Raifan juga ingin berkenalan, namun ia terlalu lelah sehabis menempuh perjalanan panjang melewati jalan yang berkelok-kelok dan tidak bisa dibilang nyaman, sehingga ia hanya ingin cepat tiba di kamarnya dan tidur. Lagipula, tadi ia juga sudah berkenalan dengan semua anak di bris-nya — meski hanya beberapa yang betul-betul ia ingat namanya (lebih tepatnya, cuma anak yang duduk di sampingnya dan mereka yang paling ribut).

Untungnya, anak yang berbaris di belakang Raifan nampaknya berpendapat sama. —Walau mungkin juga dia hanya orang pendiam atau pemalu, tapi Raifan tidak memikirkannya lebih jauh.

Beberapa saat kemudian, seluruh siswa sudah selesai berbaris. Seorang wanita naik ke atas podium dan mulai berbicara dengan distorsi pengeras suara, anak-anak baru yang sedang berkenalan langsung diam.

“Selamat malam semuanya. Selamat datang di SMAPD Langit. Nama saya Tiria Lesian, kepala asrama di sini.”

Wanita yang menurut dugaan Raifan berumur pertengahan dua puluhan itu memperkenalkan diri. Rambutnya berwarna madu, panjang dan dikuncir. Raut mukanya yang dingin sama sekali tak menyamarkan wajahnya yang menawan. Baju putih berlengan panjang yang tak kalah elegan dengan para lampion membalut badannya, sementara rok merah yang panjang menjaga agar kakinya tak kelihatan. Dipadu dengan kulit putih orang Neosia dan tubuh yang proporsional, tidak heran para siswa baru — baik laki-laki maupun perempuan — tertegun dibuatnya.

Tak menghiraukan reaksi anak-anak baru, Tiria melanjutkan ucapannya.

“Sekarang, kalian akan masuk secara bergelombang. Satu gelombang adalah lima orang terdepan di tiap barisan. Kalian ambil kunci kamar kalian masing-masing di meja yang sudah disediakan, bagi yang laki-laki di sebelah kanan saya, dan bagi yang perempuan di sebelah kiri saya.”

Tanpa basa-basi, ia memberi instruksi singkat pada para siswa. Tampaknya ia mengerti kalau mereka sudah lelah.

“Silakan lima orang pertama, mulai berjalan.”

Suara indahnya masih tetap datar. Mungkin dia memang tipe orang yang begitu?

Mematuhi perintahnya, Raifan dan semua lima orang terpilih lainnya mulai beraksi.

Sebuah lingkaran bergambar segi tujuh muncul dari kekosongan di bawah koper-koper Raifan. Warnanya putih, perlahan ia mengangkat koper Raifan ke udara.

Namanya «Lingkaran Distorsi». Lingkaran ini adalah wujud manifestasi distorsi manusia, sebagai pelaku dan tanda bahwa suatu distorsi sedang terjadi. Sedangkan bentuk geometri yang tergambar merupakan pengendali dan ukuran distorsi yang disebabkan. Susunan dan warnanya beragam, tergantung jenis distorsinya. Makin kompleks susunannya, makin rumit distorsi yang dihasilkan.

Terlihat anak-anak lain juga mengaktivasi distorsi mereka, dengan bentuk dan warna yang bervariasi. Ingat, ada berbagai jenis cara untuk mengangkat sebuah barang. Beberapa diantaranya misal mengendalikan angin, mengubah gravitasi, menggunakan tangan yang tak terlihat, atau — seperti yang Raifan lakukan — mengangkatnya langsung dengan lingkaran distorsinya.

Para orang terpilih itu berjalan ke arah meja yang dimaksud Tiria, kebanyakan dengan gontai.

Usai mendapatkan kunci kamar dan tanda pengenal siswa baru dari si penjaga meja (yang tampaknya adalah karyawan di sini), Raifan langsung melangkah pergi, tak sadar bahwa sejak tadi ada mata yang mengamatinya.

Sampailah Raifan di saat sekarang, merogoh-rogoh saku celananya namun ternyata kunci berada di saku bajunya.

Setelah ketemu, Raifan membuka pintu dengan kunci yang bentuknya aneh itu. Belakangan ini, sistem kunci menjadi semakin rumit demi mencegah pembobolan dengan distorsi.

Perkembangan zaman juga bisa merepotkan.

Pintu kayu itu membuka.

Kamarnya masih kosong, hanya ada kasur, lemari, dan meja belajar masing-masing sepasang, semuanya dalam kondisi baik meskipun bukan barang baru.

Teman sekamar Raifan belum datang. Jelas, ia datang di kloter pertama, justru aneh kalau ternyata sudah ada orang di kamar itu.

Raifan memasuki kamarnya, melepas sepatu dan menutup pintu, menurunkan koper-kopernya di depan lemari lalu mendeaktivasi distorsinya, kemudian melompat ke kasur yang ada di samping lemari. Berbaring santai.

Raifan melirik jam dinding yang terpasang di atas pintu, jam sepuluh lewat sedikit.

Raifan memutuskan untuk menunggu teman sekamarnya tiba sambil melamun.

Tapi tanpa sadar, ia terlelap.

Iklan

One thought on “001

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: