Ekstrak Sword Art Online Web Novel Aincrad Bab 15

Seperti yang kita tahu, dalam anime maupun light novel-nya Sword Art Online (SAO), Kirito lah yang membunuh Kuradeel setelah dia mencoba menyerang Asuna yang lengah karena kasihan padanya (dan serangannya itu dihalau Kirito). Namun sebenarnya di web novel SAO, yang merupakan teks asli SAO sebelum disunting dan direvisi pada versi light novel lalu diadaptasi menjadi anime, ceritanya tidak seperti itu.

Lalu seperti apa? Nah, demi mencerahkan anda-anda yang belum tahu lah makanya saya menulis post ini :)

Teks berikut adalah terjemahan Inggris -> Indonesia yang bersumber dari tap-trans. Cerita dimulai dari saat Asuna berhasil menyelamatkan Kirito yang hampir dibunuh Kuradeel. Selamat menikmati!


“…Belum telat… Aku belum telat… Syukurlah… Belum telat…”

Merdunya bisikan lega itu bahkan melebihi suara kepakan sayap malaikat. Berlutut seolah akan tumbang, Asuna menatapku dengan mata terbuka lebar, bibirnya gemetaran.

“Hidup… kamu masih hidup kan, Kirito-kun…”

“…Aah… Masih…”

Rapuhnya suaraku bahkan mengejutkan diriku sendiri. Asuna mengangguk, kemudian merogoh sebuah kristal berwarna pink dari kantong dengan tangan kanannya, dan dengan tangan kirinya di dadaku ia menyerukan “Heal!”. Kristal itu pecah dan seluruh HP Bar-ku pulih seketika. Setelah memastikannya,

“…Tunggu sebentar. Ini akan langsung selesai…”

Asuna berbisik lalu berdiri tegak. Ia menarik rapier-nya dengan elegan, dan mulai melangkah.

Nampak Kuradeel akhirnya bangkit di sebelah sana. Mengenali bayangan yang berjalan menghampirinya, kedua matanya terbelalak panik.

“A-Asuna-sama… kenapa… E-Enggak, ini, latihan, iya, saat latihan, sesuatu…”

Dia melompat bangun bagai pegas dan membalas dengan suara serak, namun dia gagal menyelesaikan ucapannya. Sebabnya adalah tangan kanan Asuna yang berkilat, ujung pedangnya merobek mulut Kuradeel.

“Puaa!!”

Kepalanya terlempar ke belakang dengan tangan menutupi mulutnya. Gerakannya terhenti sejenak, ekspresi penuh kebencian merayap kembali ke wajahnya.

“Perempuan jalang… jangan sok kau… Keh, baiklah, cepat atau lambat kau akan…”

Namun kalimat itu juga disela secara paksa. Asuna langsung menyerang dengan ganas usai membetulkan rapier-nya.

“Oh… kuoo…!”

Kuradeel mati-matian menyerang balik dengan pedang dua tangan-nya. Namun, dia bukan tandingan Asuna. Ujung pedang Asuna melukis garis-garis cahaya yang tak terbilang banyaknya di udara, mencabik-cabik Kuradeel berulang kali dengan kecepatan yang mengerikan, menusuknya dengan tepat. Lintasan-lintasan itu bisa dibilang tidak kasat mata bahkan bagiku yang beberapa level diatasnya. Di hadapan figur malaikat putih yang menghantamkan pedangnya bak sedang menari, aku terpaku dengan kagum.

Indah. Rambut panjangnya yang berwarna kastanye melambai-lambai, sosok Asuna yang memojokkan lawannya tanpa emosi selagi diliputi api kebencian terlihat indah tiada tara.

“Nuu! Kuaaaa!”

Sementara pedang Kuradeel yang diayun-ayunkan dengan liar, setengah tenggelam dalam rasa takut, menggores Asuna pun tidak. HP Bar Kuradeel berkurang dengan cepat. Dan begitu akhirnya jatuh ke area merah kritis dari area kuning, Kuradeel membuang pedangnya dan berteriak dengan kedua tangannya terangkat di udara.

“A-Aku nyerah!! Aku nyerah!! Aku yang salah!!”

Kemudian dia meringkuk ke tanah.

“A-Aku akan keluar dari guild! Aku gak akan pernah muncul di hadapan kalian lagi!! Jadi—”

Asuna berhenti bergerak dan diam memperhatikan kata-kata Kuradeel. Tatapannya seolah ia hanya sedang melihat suatu data objek rongsokan. Aku terperanjat.

“He… hentikan, Asuna… kamu jangan… lakukan itu… kamu jangan…”

Namun, sayangnya suara itu terlalu lemah.

Kuradeel bersujud di hadapan Asuna, berteriak-teriak memohon ampun dengan jidat menyentuh tanah. Dengan akurat Asuna mengetukkan ujung rapier-nya di atas kepala Kuradeel—

Dan menusukkannya tanpa ragu sedikitpun. Badan Kuradeel bergoncang hebat.

Asuna mencabut ujung pedangnya. Kuradeel mengangkat kepalanya, ekspresinya kosong.

“Ah…? Hei, apa yang—”

Saat itu juga, HP Bar-nya lenyap tanpa suara. Seluruh data yang menyusun tubuh Kuradeel pecah menjadi kepingan-kepingan kecil dan hilang berhamburan. Efek suara yang mengilukan, seperti kaca dihancurkan. Objek-objek runcing yang berhamburan dimana-mana mulai lenyap bersamaan, bagaikan sedang larut—sebelum kusadari, tak ada yang tersisa di sana.

Asuna terdiam kaku dan menjatuhkan rapier dari tangan kanannya, rapier itu berguling diiringi bunyi kering dari tanah berbatu.

Asuna mendekatiku dengan goyah, matanya tertunduk ke bawah. Lalu ia jatuh berlutut di hadapanku, layaknya boneka yang senarnya dipotong. Dengan lembut ia ulurkan tangan kanannya, tetapi menyentakkannya lagi saat hampir menyentuhku.

“…Maaf… ini… semua salahku…”

Ia berjuang untuk mengucapkan kalimat itu, wajahnya sedih. Air mata mengalir dari matanya yang besar, berlinangan satu demi satu dan berkilau bagai permata.

“Asuna…”

“Maaf… aku… gak… gak akan… menemui Kirito-kun… la… lagi…”

Dengan racun yang melumpuhkanku akhirnya luntur, kupaksa tubuhku bangkit. Rasa keram tak nyaman masih tersisa dari luka-luka yang kuderita, tapi kuabaikan saja. Kurentangkan kedua lenganku dan kupeluk Asuna. Dengannya, kutekan bibirnya yang indah, berwarna ceri dengan bibirku sendiri.

“…!”

Seluruh badan Asuna menegang dan ia mencoba mendorongku dengan kedua tangannya. Aku mengabaikannya, kudekap ia dengan paksa, ujung lidahku menerobos bibirnya. Perbuatan yang pasti melanggar kode pencegahan pelecehan. Sebuah pesan dari sistem harusnya sudah ditampilkan oleh kode itu dan kalau saja gadis ini menyentuh tombol OK, aku akan diteleportasi seketika ke area penjara di Kastil Besi Hitam. Akan tetapi, aku tidak memedulikannya.

Kudesak bibir Asuna, menyelipkan lidahku masuk, dan melakukan berbagai macam aksi yang memaksimalkan kemampuan sistem simulasi umpan balik sampai batasnya sebelum wajah kami akhirnya berpisah.

“Aku gak akan maafin kamu kalau kamu melakukannya.”

Aku bicara seraya menatap matanya, wajah Asuna bersemi merah padam.

“Hidupku adalah milikmu, Asuna. Jadi akan kugunakan untukmu. Aku akan mendampingi kamu sampai akhir.”

Asuna mengangguk berkali-kali sedang nafas hangat dihembuskannya, matanya berkaca-kaca dengan ekspresi terpesona.

“Iya… iya…”

Kali ini, ia memelukku atas kemauannya sendiri, sedang aku mendekap erat Asuna begitu wajahnya mendekat. Aku merasa intisari badanku, yang membeku di dalam kematian, mulai mencair lembut oleh gairah kehidupan yang dimiliki Asuna.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: