002

a

b c

Langit mulai terang. Matahari mulai nampak, sinarnya memasuki ruangan. Terdengar suara ayam berkokok. Bunyi cuit cuit burung menembus jendela kamar. Hawa udara terasa membekukan.

Raifan Fegia terbangun, matanya terbuka namun tubuhnya masih enggan meninggalkan kasur.

Ia melamun beberapa saat, merenungkan berbagai macam hal, mulai dari menghitung banyaknya kotak di langit-langit, kehidupan sekolahnya nanti, sampai masa depan negara ini.

Tak terasa, jarum panjang jam sudah berpindah enam angka sejak Raifan bangun pukul setengah enam tadi.

Cukup lama bagi sebuah renungan bangun tidur.

Raifan bangkit dari tidurnya, duduk mengumpulkan tenaga dan motivasi untuk mandi di tengah udara dingin ini.

Tiba-tiba, ia sadar bahwa ada orang lain di kamarnya, tertidur pulas di kasur satunya lagi yang ada sisi lain ruangan.

Butuh waktu sepuluh detik buat pikirannya yang masih belum panas (meski sudah melamun) untuk mengenali siapa orang itu.

Oh iya, temen sekamar. Kemaren gue ketiduran.

Kemarin malam Raifan berniat untuk berkenalan dengan teman sekamarnya dahulu sebelum tidur.

Namun ia terlelap karena kelelahan sebelum orang yang ditunggunya itu tiba. Teman sekamar Raifan dapat giliran masuk belakangan, sepertinya.

Sekarang saat ia ingin berkenalan, giliran teman sekamarnya yang terlelap. Gantian.

Fuuh. Ya udahlah. Kenalannya nanti aja kalo dia udah bangun. Sekarang gue beres-beres sama mandi dulu aja.

Sekembalinya dari kamar mandi, teman sekamar Raifan masih belum juga bangun.

Sudah enam angka jarum panjang lagi terlewat sejak Raifan mengeluarkan barang-barangnya dari dalam koper dan menaruhnya di tempat yang sesuai, disambung segera dengan mandi. Akan tetapi temannya itu masih nyenyak.

Padahal sebentar lagi udah waktunya pembukaan.

Yang dimaksud Raifan adalah pembukaan Masa Orientasi Siswa (MOS) di lapangan tempat mereka berkumpul kemarin. Kemudian dari situ mereka akan diberi pengarahan mengenai kegiatan selanjutnya.

Tak ada pilihan lain. Kalau dia tidak dibangunkan sekarang, teman sekamar Raifan tak akan sempat hadir di acara pembukaan tepat waktu.

Raifan melangkah mendekati kasurnya. Teman sekamarnya itu masih berselimut rapat, beradaptasi dengan hawa dingin pagi ini.

Raifan menyingkap selimutnya.

Yang ada di hadapannya adalah seorang pemuda berambut biru gelap yang pendek, wajahnya sangat damai seolah tak ada sesuatu pun di dunia ini yang menjadi bebannya. Guling yang disediakan asrama ia peluk dengan erat.

Raifan menggoyang-goyangkan tubuhnya, mencoba membangunkan.

“Oi, bangun. Bentar lagi pembukaannya udah mau mulai.”

Tak ada reaksi.

Raifan menggoyang-goyangkan tubuhnya lebih keras lagi. Suaranya juga makin nyaring.

“Oi, bangun oi. Sebentar lagi pembukaannya mau mulai.”

Masih tak ada reaksi.

Sebaliknya, Raifan merasa wajah teman sekamarnya itu malah makin tenteram.

“OI! BANGUN! SEBENTAR LAGI PEMBUKAAN MAU MULAI!”

Teriakan Raifan terdengar sampai ke kamar sebelah.

Wajah damai dan tenteram itu membuat Raifan sangat kesal entah kenapa.

Gimana nih, dia gak bangun-bangun juga… Ah!

Tiba-tiba Raifan terpikir satu kemungkinan buruk.

Jangan-jangan

Ia meletakkan jarinya di depan hidung orang mengesalkan itu.

Oh, masih nafas.

Kemungkinan buruk di pikiran Raifan tidak menjadi kenyataan.

Tapi gimana nih? Bentar lagi pembukaannya udah mau mulai. Kalo gak berangkat sekarang gue juga bisa telat…

Ia berpikir sejenak. Menimbang jalan apa yang terbaik.

Beberapa detik kemudian…

—Menyimpulkan bahwa sudah tak ada harapan bagi pemuda di hadapannya, Raifan memutuskan untuk berangkat duluan dan meninggalkan orang yang wajah damainya mengesalkan itu.

Jika ada orang yang menonton kejadian ini sejak awal, pasti ia akan berkomentar mengenai Raifan yang cuma butuh beberapa detik untuk menyimpulkan kalau tak ada harapan bagi teman sekamarnya, lalu meninggalkannya begitu saja.

Seandainya Raifan tahu kalau kejadian ini merupakan pertanda betapa pemuda berambut biru itu akan merepotkannya di masa depan…

a

b

c

Lampion-lampion elegan tidak lagi menerangi lapangan itu. Tentu saja, matahari sudah lebih dari cukup untuk menyinari pembukaan pagi ini.

Raifan Fegia kembali berbaris di paling depan. Sepertinya ia tiba terlalu pagi — atau lebih tepatnya, anak-anak lain datang terlalu telat.

Pembukaan harusnya telah dimulai 15 menit yang lalu, tapi sampai sekarang baru setengah lebih sedikit jumlah siswa yang sudah berada di lapangan. Sisanya masih baru berdatangan.

Mereka semua memakai seragam putih abu-abu. Yang laki-laki mengenakan baju lengan panjang yang memiliki corak hiasan di pertengahan badan dan bagian ujung lengan. Sedangkan yang perempuan memakai baju yang hampir sama namun tidak berkancing di pertengahannya. Baik celana laki-laki maupun rok perempuan sama-sama panjang sampai ke mata kaki, baju mereka juga sama-sama dikeluarkan.

Sementara di sekitar barisan kakak-kakak panitia MOS bertanda pengenal berkeliaran merapikan barisan.

Tapi Raifan tidak terlalu senang dengan situasi sekarang ini.

“Ngaret… uugh!” Gerutunya pelan.

Gue kira sampe sini udah rame soalnya di jalan jarang ada orang, ternyata malah gara-gara belom pada berangkat ya? Dasar, ngakunya anak terbaik bangsa, tapi dateng pembukaan aja ngaret! Gimana sih!? Kalo orang gak berpendidikan sih gapapa, tapi kita!? Pantes aja bangsa ini gak maju-maju, putra-putri terbaiknya aja begini. Mereka harusnya-

Raifan mengomel dalam hati bagai senapan mesin.

Kekesalannya ini bukan hanya karena ia kesal terhadap teman-temannya yang dijuluki sebagai putra-putri terbaik bangsa, calon pemimpin masa depan, dan sebutan-sebutan membanggakan lainnya, tapi tidak bisa menghargai waktu orang lain, namun lebih karena ia terpaksa berdiri menunggu selama 15 menit.

Tapi setidaknya, sekarang Raifan bisa melakukan hal lain yang produktif.

20 menit kemudian.

Anak-anak di sekitar Raifan sudah habis diajak berkenalan, tapi acara masih juga belum dimulai.

Gusar, Raifan bertanya pada salah satu panitia MOS yang bertugas mengatur barisan.

“Kak, kita nungguin apa lagi sih? Barisannya kan udah siap semua.”

“Kepala sekolahnya belom dateng.”

Hati Raifan makin panas.

Beberapa menit kemudian, akhirnya kepala sekolah yang dinantikan itu datang juga. Acara dimulai setelah ditunda hampir 40 menit.

Pertama ada sambutan dari ketua panitia MOS, seorang cowok berkarisma. Lalu sambutan dari ketua OSIS, seorang cewek yang anggun dan cantik. Disambung dengan sambutan dari kepala sekolah, orang tua berbadan gemuk dan beraura birokrat.

Setelah rentetan sambutan itu usai. Raifan dan anak-anak baru lainnya dibimbing masuk ke aula untuk menyaksikan sosialisasi mengenai sekolah mereka. Isinya kurang lebih adalah sejarah, visi-misi, kurikulum, prestasi yang sudah dicapai, dan semacamnya yang masih dihafalkan Raifan meski menurutnya tak penting.

Sehabis sosialisasi, acara dilanjutkan dengan tur keliling sekolah. Raifan dan anak-anak lainnya dibagi menjadi 20 kelompok dan dibawa jalan-jalan menyusuri sekolah. Mereka mengunjungi ruangan-ruangan yang berdiam di sekolah megah bak istana itu, mulai dari ruang kelas yang nyaman, berbagai jenis laboratorium distorsi yang canggih, hingga perpustakaan besar yang membuat mata Raifan berbinar-binar (ia hampir ketinggalan rombongan karena keasyikan di sana). Seluruh perjalanan dipandu oleh kakak panitia MOS yang cukup ramah serta diselingi tawa anak-anak yang saling bercanda.

Tapi selama perjalanan yang menyenangkan ini, Raifan merasa kalau ada yang terus mengamatinya.

Akhirnya waktu makan siang tiba.

Para siswa yang baru menunaikan tur keliling sekolah langsung diarahkan ke kantin siswa yang terletak diantara asrama laki-laki dan asrama perempuan.

Tadi pagi Raifan juga makan di sini sebelum pergi ke lapangan.

Walau dibilang sebagai kantin, sebenarnya tempat ini lebih seperti kumpulan dari berbagai macam kios yang menjual makanan yang bervariasi antara satu kios dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi selera siswa-siswanya yang beraneka ragam. Sebabnya, mereka datang dari seluruh penjuru Neosia yang tentu tiap daerahnya mempunyai kebudayaan, masakan, dan lidah yang berbeda-beda.

Setidaknya, itu yang akan dijawab pejabat sekolah kalau-kalau mereka ditanya.

Tapi, bukannya jelas kalau ini sebenernya pembagian berdasarkan ‘kelas’…..?

Kelas yang dimaksud Raifan bukanlah kelas satu, dua, atau tiga. Namun kelas masyarakat berdasarkan penghasilan: kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah.

Alasan mengapa Raifan berpikiran seperti itu ialah lokasi kios yang tersegmentasi berdasarkan harganya. Seluruh kios terletak di bagian tengah bangunan, membagi dua kantin secara horizontal, setiap kios memiliki mejanya masing-masing. Kios yang makanannya berharga mahal terletak di sebelah kanan depan, kios kelas menengah di kiri dan kanan belakang, sedangkan kios yang ‘murah’ di kiri depan.

Kios ‘murah’ kurang lebih setingkat dengan warung, kios menengah mirip restoran kecil, sementara kios kelas atas sudah tidak bisa disebut kios lagi, melainkan restoran.

Ini jelas membuat para siswa jadi tidak berbaur satu sama lain — membagi mereka berdasarkan kelas sosialnya. Apalagi kios kelas atas, yang menganut konsep bangunan yang lebih ‘terlindung dari gangguan luar’.

Tapi, yah… inilah dunia. Lagian bakal aneh juga kalo restoran mahal yang udah didesain susah-susah sama arsitek interiornya tapi di sampingnya ada warung nasi yang kumal.

Raifan hanya bisa pasrah melihat keadaan ini (atau mungkin juga ia hanya berpikir terlalu jauh dan sebenarnya susunan kantin yang seperti ini cuma kebetulan semata yang tak disengaja). Saat ini ia sedang menunggu makanannya datang di salah satu kios kelas menengah yang berada di bagian kiri bangunan yang sanggup melayani seribu orang itu.

Mejanya masih kosong. Walau Raifan sejak pagi berkenalan dengan banyak orang, masih belum kelihatan orang yang berpotensi jadi teman akrabnya. Ia belum merasa ada yang cocok dengannya. Sewaktu tur tadi pun, Raifan hanya mendengarkan obrolan anak-anak di sekitarnya tanpa turut berpartisipasi. Sesekali ikut tertawa bersama atau berkomentar singkat, namun tetap tidak mencapai tahap ‘bergabung dalam pembicaraan’.

Yah, jalan pikiran Raifan memang berbeda dengan kebanyakan orang.

“Permisi, di sini ada orangnya gak?”

Suara lembut datang dari sisi kirinya.

Raifan menengok.

Sosok tiga orang cewek memasuki pandangannya. Mereka sepertinya berteman satu sama lain.

“Eh, iya, gak ada orang kok.”

Raifan buru-buru menjawab sebelum mereka bertanya lagi.

Mendengar persetujuan Raifan, ketiga perempuan duduk di meja empat kursi tersebut. Tampaknya meja-meja lain di kios itu sudah penuh sehingga mereka terpaksa duduk di meja yang sudah ada orangnya.

…Entah mengapa Raifan tiba-tiba merasa kalau ada yang mengincarnya .

“Eh, kenalan dong. Nama lo siapa?” Ujar cewek yang duduk di depan Raifan dengan akrab. Kedua sikunya bersandar di meja untuk menopang dagu yang bersandar di kedua tangannya. Pupil birunya menatap Raifan seolah menemukan mainan baru.

“Raifan. Lo siapa?” Jawabnya pendek seraya mengalihkan pandangan. Ia merasa malu untuk bertatap mata dengan cewek, khususnya cewek semacam yang ada di depannya itu.

“Umm, gue Vika.” Balas cewek itu. Nada bicaranya ceria, sesuai dengan rambut merahnya yang dikuncir kuda.

“Oia, gue kenalin ya. Yang di ini namanya Dea.” Lanjut Vika sembari menghadapkan kepalanya ke cewek yang duduk di sampingnya. Nampaknya ia menikmati memperkenalkan orang lain.

“D-Dea.” Ujar cewek itu pelan sambil menunduk gugup, berlawanan dengan rambut oranye-nya yang dikuncir ganda.

“Rai-”

“Nah, kalo yang di samping lo itu namanya Ina.” Potong Vika, tak mempedulikan perkenalan dari Raifan. Raifan hanya diam tercengang.

“Ina.”  Kata cewek itu sambil mengulurkan tangannya. Ia yang tadi pertama kali bicara dengan Raifan. Senyum menghiasi wajahnya yang jelita.

“Raifan.”

Dengan ragu-ragu ia membalas uluran tangan cewek berambut coklat sebahu itu dan menjabatnya, tentu pandangannya terarah ke tempat lain karena merasa tak enak hati.

Deg.

…Perasaan sedang diincar yang sejak tadi menghantui Raifan menajam lima kali lipat…

Setelah mereka semua selesai makan.

“Umm, Raifan, lo itu… fobia cewek ya?”

Raifan menyemburkan air yang sedang diminumnya. Gelas di tangannya menghentak meja.

Yang bertanya adalah Vika. Tak ada sedikitpun tanda-tanda di matanya kalau ia punya maksud lain. Murni rasa penasaran.

Walau begitu, biasanya lo gak nanya pertanyaan kayak gini ke orang yang baru lo kenal kan!?

“Abisnya, gue perhatiin dari tadi, mata lo kayak menghindari wajah kita gitu. Bukannya cowok tuh suka ngeliatin cewek cantik ya? Tapi lo dari tadi sama sekali gak memandang kita bertiga. Waktu kenalan tadi juga, mata lo mengarah ke tempat lain. Karena itu… gue menyimpulkan bahwa… lo itu fobia cewek!”

Tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu, emang bener dari tadi gue enggak ngeliatin lo bertiga, tapi kesimpulan macam apa itu!? Lo gak mempertimbangkan kemungkinan lain kayak  ‘dia seorang pemalu’ sama sekali!?

Tetapi yang akhirnya dikeluarkan Raifan cuma “E-Enggak.”

Belum puas, Vika melanjutkan lagi.

“Kalo gitu, kemungkinan kedua adalah… kita gak cantik? Padahal gue pede banget loh sama tampang gue. Ina sama Dea juga hampir secantik gue.”

Kepercayaan diri tingkat tinggi! Dan dia ngucapin itu di depan orang yang bersangkutan!

Raifan melirik dua orang lain yang dimaksud untuk mengecek reaksi mereka. Dea hanya menunduk ke meja, takut salah tingkah. Sementara Ina menampilkan ekspresi seakan menikmati percakapan ini.

“E-Enggak. Lo bertiga ca-ca-cantik kok.” Bantah Raifan dengan tersipu.

Raifan tidak sadar, tapi sebenarnya kalimat barusan adalah pujian pertama Raifan terhadap kecantikan seorang (tiga orang?) cewek seumur hidupnya.

Dan ia tidak bohong.

Masih belum puas juga, Vika meneruskan lagi.

“Hmm, kalo bukan itu, kemungkinan yang tersisa adalah… kita bertiga bukan tipe lo? Sayang ya, padahal lo tuh tipe gue loh.”

“……….”

Raifan tak tahu harus bereaksi apa.

Dea dan Ina terbelalak.

Waktu serasa membeku.

Ditambah lagi, perasaan sedang diincar yang dari tadi menghantui Raifan meruncing tiga belas kali lipat.

“……….”

Ingin menormalkan keadaan, Raifan mencoba bicara.

“Umm… Vika, gue seneng ngedenger perasaan lo.” Ujar Raifan. Wajahnya merah padam.

Lalu ia menyambung dengan gugup bercampur ragu.

“Tapi… gue-“

“Ha…-haha…-hahahaha…” Tiba-tiba tawa Vika meletup. Menambah ribut suasana kantin yang sudah ramai.

Raifan terbengong keheranan. Dea — meski Raifan tak bisa melihat wajahnya —juga amat kebingungan. Sementara Ina hanya kaget sekejap lalu malah ikut tergelak anggun.

“Gu-Gue… gue cuma bercanda lagi, pfft… hahahaha…” Ungkap Vika. Tangan kanannya masih menutupi bagian bawah wajahnya.

Vika melanjutkan kata-katanya sembari menyeka air mata yang keluar karena kebanyakan tertawa,

“A-Abisnya… dari tadi lo cuma dieeem aja, keliatan tegang lagi, gue jadi pengen iseng deh~”

Tunggu tunggu, lo ngisengin orang kalo ngeliat dia lagi tegang!?

Ingin kalimat itu Raifan keluarkan, tapi akhirnya ia cuma tersenyum masam.

Memang, tadi seusai memperkenalkan nama masing-masing, Ina, Vika, dan Dea meneruskan dengan bercerita hal-hal kecil lain semisal SMP dan kelompok tur sekolah tadi. Ternyata, bertentangan dengan dugaan Raifan, cuma Ina dan Dea yang berasal dari SMP yang sama, sedangkan Vika baru berteman dengan mereka tadi pagi. Padahal Raifan yakin kalau mereka bertiga adalah teman dari SMP ditilik dari keakrabannya.

Dugaan Raifan bahwa Vika itu anak yang supel terbukti.

Lalu makanan Raifan datang. Ia pun meminta izin untuk makan duluan pada tiga orang di mejanya, kemudian langsung mulai bersantap.

Mereka bertiga mengobrol kesana kemari sewaktu Raifan makan (lebih tepatnya Vika mengobrol dengan Ina sedang Dea sesekali turut bicara).

Walau Raifan mulai terlebih dulu, mereka semua selesai makan kurang lebih bersamaan sebab Raifan menambah satu porsi lagi, nampaknya ia lagi kelaparan.

Setelah makan, mereka masih duduk-duduk sebentar diselingi mengobrol santai, menunggu makanan turun ke perut.

Dan Raifan hanya diam saja selama kurun waktu ini.

Tak disangka, diamnya itu memicu kejahilan Vika tadi. Raifan merasa kalau ia harus lebih waspada mulai dari sekarang.

Jadwal berikutnya adalah sosialisasi oleh Dewan Perwakilan Siswa (DPS). Lokasinya di aula tempat sosialisasi dari sekolah tadi.

Dan entah mengapa, Raifan masih ditemani tiga cewek yang tadi baru dikenalnya. Kemungkinan besar, karena ia tak dapat menemukan kesempatan untuk berpisah dari mereka. Gimana caranya? Orang tujuan dan jalan yang dilewatin sama…

Usai melintasi koridor berlantai marmer, mereka pun masuk dengan dihimpit siswa-siswa baru lain, tampaknya pintu kayu selebar tiga meter itu tidak cukup untuk memproses banyaknya siswa yang tiba berbarengan.

Begitu masuk, Raifan sekali lagi terkagum pada keagungan aula itu.

Kursi-kursi merah berderet dari atas ke bawah, terpusat menuju panggung. Rongga-rongga tempat berjalan menyelinginya sesekali. Jarak antar baris kursi tak terlalu sempit dan tak terlalu lebar, sementara selisih tingginya benar-benar pas sehingga orang yang duduk di baris yang lebih rendah tak akan menghalangi pandangan orang yang duduk di baris atasnya. Karpet biru mengalasi seluruh ruangan, memberikan kesan nyaman bak sebuah teater.

Tinggi dari panggung di bawah hingga pintu tengah tempat Raifan masuk mencapai 20 meter. Lampion-lampion yang bahkan lebih elegan dibanding yang melayang di lapangan kemarin tergantung di langit-langit, saat malam cahayanya dapat memberikan penerangan yang cukup untuk membaca tanpa membuat mata sakit.

Sementara kotak-kotak putih mengkilat yang berongga pada bagian depannya terpasang di sana sini. Mereka adalah «Asein», yaitu pendingin-pendingin ruangan bertenaga distorsi. Kotak-kotak itu bersiaga di setiap sisi ruangan yang putih bersih, siap mengusir hawa panas dan memberikan kesejukan jika sewaktu-waktu dinyalakan.

Namun yang paling membuat Raifan kagum terhadap ruang yang memiliki kekosongan raksasa ini ialah, pemandangan di hadapannya baru merupakan sepertiga dari keseluruhan ruangan.

Aula megah ini terdiri dari tiga tingkat.

Dan yang ada di hadapan Raifan hanyalah tingkat pertama.

Masih ada dua tingkat lagi di balik lampion-lampion cemerlang yang tergantung.

Kedua tingkat itu berukuran sama dengan tingkat pertama.

Sebuah mekanisme rumit yang memanfaatkan cermin dan distorsi digunakan untuk menyajikan pemandangan panggung yang jelas di tiap tingkat.

Sementara jika cuaca cerah, mekanisme cermin dan distorsi yang lebih kompleks lagi mengalirkan sinar matahari yang dilemahkan untuk menerangi ruangan.

Mekanisme-mekanisme tersebut, dipadu dengan desain yang menakjubkan, tata ruang yang brilian, dan perabotan-perabotan kelas satu, adalah sebab aula megah ini disebut-sebut sebagai keajaiban arsitektur, seni, dan teknologi.

Wajar kalau Raifan kagum meski sudah kedua kalinya.

Sambil terus berjalan pelan mengikuti antrian, matanya bergerak kesana kemari mengamati keajaiban di hadapannya.

Tanpa sadar, ia sudah berada di baris tempat ia dipersilakan duduk (para kakak panitia MOS mengarahkan mereka untuk duduk di baris terdepan lebih dulu).

Duduklah ia diapit oleh Vika di sebelah kanan dan Ina di sebelah kiri. Gara-garanya adalah saat tadi ia masuk Vika berada di depannya dan Ina di belakangnya. Dea duduk di sisi lain Ina.

Walau merasa tak nyaman, ia memutuskan untuk bertahan saja. Toh cuma setengah jam ini.

“Eh, Rai Rai, menurut lo mereka mau ngomongin apa ya? Kok cuma sebentar sih?”

“Gak tau deh Vik, perkenalan mungkin?” Jawab Raifan sekenanya sambil mengangkat kedua bahunya.

“Tapi OSIS gak ada jadwal kayak gini, masa cuma DPS doang yang dapet perkenalan?”

“Iya juga ya. Gak tau deh kalo gitu.”

“Umm, kalo yang tadi gue denger-denger sih, mereka mau milih perwakilan angkatan buat masuk DPS.” Ina angkat bicara.

“Gitu…” Sahut Vika. Badannya condong ke depan untuk melihat wajah lawan bicaranya yang terhalang oleh figur Raifan.

“Eh, tapi emang mereka bisa milih perwakilan angkatan cuma dalem setengah jam?” Tanya Vika lagi.

“Hmm…” Ina berpikir sesaat, tangan kanannya mengepal, punggung jempolnya menyentuh bibirnya yang mungil.

“—Gak ngerti juga deh.”

Sepertinya tak ada jawaban yang muncul di kepalanya.

Baru saja Vika ingin berpendapat lagi, sesosok lelaki berjalan ke tengah panggung. Obrolan singkat mereka pun berhenti sampai di situ.

“Tes, tes. Yak, selamat siang semuanya. Nama saya Jusa, ketua DPS di sini.”

Dia mulai bicara. Ada lingkaran seukuran koin berisi pola kompleks yang menyala di lehernya, tanda bahwa dia menggunakan distorsi pengeras suara yang terinstal dalam distorter miliknya.

“Sebelumnya saya ucapkan selamat terlebih dulu kepada kalian yang telah berhasil masuk SMA terbaik di negeri ini. Semoga kesempatan berharga ini tidak kalian sia-siakan.”

Sambungnya basa-basi meniru para pemberi sambutan tadi pagi.

Dia berhenti sejenak, menghirup nafas, lalu melanjutkan lagi.

“Langsung saja ke intinya. Jadi, tujuan kami dari DPS mengumpulkan kalian semua di sini adalah untuk memilih lima orang yang akan menjadi perwakilan angkatan kalian di DPS ini selama satu semester ke depan.

“Biasanya, DPS itu regenerasinya di akhir tahun. Tapi karena ada urusan penting yang harus ditentukan segera dalam beberapa minggu ke depan, dan urusan ini menyangkut semua siswa Smala, jadilah kami memutuskan untuk mengikutsertakan beberapa dari kalian sebagai perwakilan supaya kebijakan yang diambil lebih komprehensif dan agar nantinya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Nah, jadi sekarang, ada yang bersedia? Langsung angkat tangan saja ya.”

Ruangan terhenyak sesaat. Mencerna kalimat-kalimat yang baru diutarakan sang ketua DPS.

Intinya, dia mau memilih lima orang perwakilan dari angkatan kita buat masuk DPS, karena ada keputusan penting yang harus diambil. Gitu?

Barulah sebentar kemudian mulai bermunculan tangan-tangan yang terangkat, tanda mengajukan diri.

Jusa mulai menghitung para sukarelawan itu.

“…lima, enam, tujuh…”

Tangan-tangan baru masih terus bermunculan. Raut muka Jusa mulai berubah.

“…delapan belas, sembilan belas, dua puluh…”

Masih belum berhenti. Ekspresi Jusa sudah sedikit pucat.

“…tiga satu, tiga dua, tiga tiga…”

Dia kewalahan.

“Yak, tangannya silakan diturunkan saja.”

Akhirnya dia menyerah pada bilangan empat puluh empat. Tampaknya jumlah orang yang mencalonkan diri melebihi perkiraannya sehingga dia memutuskan untuk menggunakan metode lain.

Dia berpikir sejenak, wajahnya berubah Hmmm.

Omong-omong, Raifan beserta Vika, Ina, dan Dea tidak termasuk mereka yang mengangkat tangan, entah karena mereka tidak ambisius, merasa tak cocok, atau hanya tidak ingin repot. Yang jelas, tangan-tangan mereka tidak termasuk sekian puluh yang tadi terangkat.

“Begini, tadinya saya kira yang bersedia cuma sedikit, jadi bisa saya suruh maju ke depan terus saya wawancara satu-satu dan sisanya boleh bubar. Tapi karena ternyata banyak yang angkat tangan, saya putuskan untuk memakai cara lain saja.”

Jelas lelaki 180 cm itu lagi. Sepertinya angkatan ini lebih aktif dari prediksinya — atau memang dia yang tidak berbakat membuat prediksi?

“Oke, sekarang, silakan yang tadi angkat tangan angkat tangan lagi.”

Para siswa bertipe aktif itu pun mengangkat tangan mereka lagi.

“Nah, yang sudah angkat tangan jangan diturunkan tangannya ya.”

Instruksinya jelas, dan terdengar sama jelasnya dengan volume suara yang diamplifikasi distorsinya.

Meski sedikit ragu, para pengangkat tangan tetap mematuhi perintah pemuda berambut pendek itu.

Hmm, kira-kira dia mau ngapain ya?

Saat ini mata Jusa menyusuri kursi-kursi yang diduduki di hadapannya dari kiri ke kanan, atas ke bawah, lalu dari kanan ke kiri, dan dari bawah ke atas. Singkatnya, berputar-putar seolah sedang mencari sesuatu.

Setelah beberapa saat, matanya akhirnya berhenti pada suatu posisi, memandang ke suatu kursi yang beruntung.

“Silakan tangannya diturunkan.”

Tangan-tangan turun ke bawah, para pemiliknya masih merasa penasaran, buat apa kita tadi mengangkat tangan?

“Kamu yang di sana, tolong berdiri.”

Tangan kanannya menunjuk ke kursi di belakang Raifan.

Raifan menoleh ke belakang, ingin tahu wajah sosok yang terpilih itu.

Tapi anehnya, anak yang ditunjuk itu tidak beranjak bangun dari kursinya.

Mungkin dia gak sadar kali ya.

Jikalau Raifan adalah anak yang lebih ekstrovert, tentu saat ini ia sudah memberitahu anak itu kalau dia yang ditunjuk berdiri. Namun sayangnya Raifan lebih sering menghabiskan masa kecilnya dengan membaca buku sendirian, dan bahkan saat bermain dengan teman-temannya pun ia cenderung pasif. Sehingga, aksi untuk menyadarkan sang tertunjuk tidak terpikir di benaknya sama sekali.

Ia hanya menanti anak itu sadar dengan sendirinya.

Akan tetapi, penantian itu langsung berakhir.

Karena ternyata yang ditunjuk Jusa adalah orang di samping kiri Raifan, dengan kata lain, Ina.

Berikut kalimat lengkapnya.

“Eh, kok malah nengok ke belakang.  Yang saya tunjuk itu kamu yang di baris ke lima.”

Kontan, Raifan menggeser arah tatapannya ke Ina usai memastikan bahwa barisan mereka lah yang disebut.

Namun, keanehan itu terjadi lagi.

Ina juga tak berusaha bangkit dari kursinya dan malah menatap balik Raifan dengan bola matanya yang kuning, keheranan.

Walau sama-sama heran, kali ini — sebab sudah kenal — Raifan memutuskan untuk menyadarkan Ina kalau ia sudah ditunjuk untuk berdiri.

Tapi baru saja Raifan ingin melakukannya—

“Rai, berdiri gih. Lo ditunjuk tuh.”

—Suara Vika menyadarkannya bahwa ia gagal menolak kenyataan…

Maka, berdirilah Raifan dengan pasrah. Ia terus berdoa dalam hati agar nasib yang akan diberikan padanya bukanlah hal merepotkan.

Sayangnya, takdir berkata lain.

“Nama kamu siapa?” Jusa berdiri di ujung panggung.

“Raifan.” Jawabnya setengah berteriak untuk mengimbangi nyaringnya sang ketua DPS yang menggunakan distorsi.

“Dengan ini saya nyatakan Raifan sebagai koordinator pemilihan perwakilan angkatan kalian. Silakan Raifan mengkoordinasi teman-temannya untuk melaksanakan perwakilan angkatan, terserah caranya bagaimana, yang penting besok sore lima nama perwakilan kalian sudah saya terima. Saya mohon maaf jika ada kata-kata saya yang salah, selamat siang dan terima kasih!”

Bersamaan dengan ucapannya selesai, lingkaran distorsi di lehernya menghilang seketika, sementara badannya sudah balik kanan bubar jalan.

Belum sempat Raifan merespon, Jusa sudah menghilang ke belakang panggung.

…Ia bahkan tidak menyediakan sesi tanya jawab…

Yang tertinggal adalah seorang Raifan bingung yang berdiri, dan ratusan temannya yang duduk.

Dan entah kenapa, ratusan orang itu — termasuk Dea, Ina, dan Vika — sekarang menolehkan kepala mereka ke arahnya dengan seragam.

Bingung apa yang harus dilakukan, Raifan hanya menjerit dalam hati.

Eeeeehhhhhhh!!???

a

b

c

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: