Rumah di Atas Awan

Sebenarnya ini rahasia, tapi rumahku terletak di atas awan.

Bukan awan biasa tentunya, tapi awan abadi yang saat ini berlabuh di puncak gunung dekat sekolahku berada.

Punya rumah di atas awan tentu ada untung dan ruginya.

Untungnya itu yang pertama dan yang paling penting, keluarga kami tidak perlu membayar pajak bumi dan bangunan.

Mungkin bagi kawan-kawan yang kaya hal ini bukanlah hal yang seberapa, tapi bagi keluarga kami yang selalu berhemat, ini merupakan hal yang sangat penting.

Selain kebebasan kami dari pajak, ada banyak keuntungan lainnya dengan bertempat tinggal di atas awan. Misalnya saja tidak pernah kebanjiran, tidak ada nyamuk, bisa melihat bintang-bintang dengan jelas, dan banyak lagi.

Tapi ruginya juga pasti ada. Seperti tidak bisa bermain bola karena bola yang jatuh tidak bisa diambil, susah mendapatkan sinyal TV, sampai panjangnya waktu perjalanan pergi sekolah. Saat hari pertama masuk sekolah pun, aku datang terlambat karena parasut yang kunaiki tertiup angin kencang ke arah yang berlawanan.

Sebenarnya kalau dihitung-hitung, mungkin rumah di atas awan lebih banyak ruginya daripada untungnya?

Walaupun begitu, aku tetap mencintai rumahku ini dengan segala keunikannya.

Mungkin ada diantara kawan-kawan yang mengira kalau aku ini anak yang istimewa. Tapi tidak, aku bukanlah keturunan alien, bukan juga manusia bersayap yang hampir punah. Aku hanyalah anak biasa yang memiliki kehidupan biasa, selain rumahku.

Dan layaknya anak biasa lainnya, aku juga ingin bebas bergaul dan berteman dengan siapa saja. Tapi seperti yang tadi kubilang, lokasi rumahku harus tetap menjadi rahasia.

Karena itu, ayah dan ibuku selalu mengingatkanku agar hati-hati dalam berteman, sebab bisa saja temanku itu sebenarnya adalah agen rahasia yang ditugaskan untuk menemukan rumah-rumah di atas awan.

Makanya sewaktu Rena, Aril, dan Aqila menanyakan aku tinggal dimana, aku hanya bisa terdiam membisu.

Sebenarnya, mudah saja bagiku mengada-ada. Tapi itu bertentangan dengan prinsip yang diajarkan orang tuaku: jangan pernah berbohong.

Sehingga, saat teman-temanku itu diliputi rasa penasaran dalam perjalanan ke perpustakaan dekat SMP kami dan menanyakannya langsung padaku, aku tak dapat menjawab dan malah mencoba mengubah topik pembicaraan.

Tapi ketiga temanku itu tidak menyerah, meski baru sebulan sejak kami mengenal satu sama lain selagi masa orientasi siswa baru, tampaknya mereka sangat peduli dengan diriku.

“Ayolah, kasih tahu aja rumahmu dimana. Gak ada salahnya kan?” Bujuk Aril. Walau menurutku bujukannya itu sama sekali tak meyakinkan. Dia memang mahir berolahraga, tapi nampaknya keahlian membujuknya hanya rata-rata.

“Eh, besok tuh ada PR apa ya?”

“Iya, kita semua kan penasaran. Ayo dong kasih tahu, kumohon~” Tambah Rena sambil ia mengibarkan rambutnya yang sebahu. Dipadu dengan wajahnya yang manis, anak laki-laki biasa pasti sudah bertekuk lutut begitu Rena sudah memohon seperti itu. Tapi tidak denganku.

“Oh iya, bukannya minggu ini kita harus ngerjain tugas kelompok ya?”

“Jadi kamu begitu sekarang. Ya udah, kalo begitu kita gak temen lagi ya…” Ancam Aqila dengan wajah tersenyum. Sepertinya kesabaran gadis berambut panjang ini sudah habis. Walau cerdas, kelihatannya menahan diri masih terlalu sulit baginya. Namun tetap, rahasia adalah rahasia.

“Hmm, kira-kira ujian tengah semester bulan depan bahannya sampai mana ya?”

*Stop*

Tiba-tiba Aril yang ada di sisi kananku, Rena yang ada di sisi kiriku, dan Aqila yang ada di sisi lain Rena berhenti serentak. Tidak mau berjalan sendirian, aku pun menghentikan langkahku.

“Eh? Kenapa kalian berhenti?”

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanyalah tatapan mereka yang terpaku padaku. Tanpa sadar, kakiku bergerak mundur, dan tahu-tahu aku sudah tersudut di pinggir jalan dengan ketiga sahabatku menyorotkan mata mereka tanpa berkedip sambil menyilangkan tangan.

“Mmm, kita lanjutin jalan lagi yuk…”

Bukannya menjauh dariku dan meneruskan perjalanan, mereka malah makin mendekat. Dan sekarang tanpa sadar aku sudah terduduk di jalan, masih membelakangi dinding.

“Kalau kita gak jalan sekarang nanti keburu so… re… loh…”

Sebegitu tajamnya tatapan mereka sehingga aku sampai terbata-bata dalam berucap. Sepertinya keadaan akan berbahaya jika aku terus bergeming.

“Ya udah, iya… iya…! Aku menyerah! Kukasih tahu deh rumahku dimana.”

Seketika itu juga ekspresi wajah mereka dipenuhi rasa kemenangan. Dasar…

“Tapi janji ya ini rahasia kita-kita aja. Oke?” Tanyaku memastikan.

“““Oke!””” Sahut mereka serempak.

“Sebenarnya, aku gak boleh memberitahu lokasi rumahku… Tapi, karena aku sangat menghargai persahabatanku dengan kalian…” Ucapku layaknya menceritakan cerita seram.

“Udah langsung aja!” Seru Aril. Diikuti dengan anggukan Aqila dan Rena. Kelihatannya mereka sudah tidak sabar lagi.

“Kalau begitu, kita langsung saja… Rumahku itu sebenarnya berada di…”

Mereka mengamatiku dengan seksama.

“…Berada di…”

Nafas mereka tertahan.

“…Berada di…”

“““UDAH CEPETAN!””” Bentak mereka kesal.

“Eh iya maaf. Rumahku sebenarnya berada di atas awan. Tuh, awan yang itu.” Jariku menunjuk ke awan yang sedang berlabuh di puncak gunung dengan santainya.

Diluar perkiraan, bukan muka terpana yang mereka tampilkan, melainkan muka meremehkan yang seakan bilang “Yah, cuma begitu doang…”

Baru saja aku ingin menyelidiki mengapa mereka tidak kaget, mereka menjawab keherananku atas kemauan sendiri.

“Rumahku di pusat bumi.” Ujar Aqila.

“Rumahku di bulan.” Sambung Rena.

“Aku gak punya rumah.” Tutup Aril.

“………….”

“………….”

“………….”

“………….”

Sepertinya, yang membuat persahabatan kami erat adalah selera humor kami yang cocok.

(Selesai)

Kalau ada yang belum mengerti, silakan baca ini :)

Iklan

One thought on “Rumah di Atas Awan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: