Kenapa?

Sebenernya, apa sih yang lo pikirin?

Gue bingung.

Bukannya, lo adalah orang yang paling menjunjung tinggi keadilan dan kebebasan?

Air mata gue mulai berlinang, meski langsung tersamar oleh hujan lebat yang terus turun, begitu ingatan perjuangan kita berputar kembali di pikiran.

Gue masih inget banget, hari-hari dimana kita berkeliling dari rumah ke rumah, menjelaskan dengan sabar, apa makna keadilan dan kebebasan, serta kekuatan jahat yang ingin merebutnya dari mereka. Lalu mengajak mereka untuk bergabung dalam upaya melawannya.

Walau kita mendapatkan lebih banyak gelengan daripada anggukan, tapi lo gak pernah putus asa.

Masih terbayang jelas di kepala gue, raut wajah lo yang tetap ceria meski dihantam penolakan, bentakan, atau bahkan makian. Ekspresi lo saat itu… bagaikan matahari buat gue. Mungkin, kalau bukan karena lo, gue udah menyerah mengajak orang-orang — meski masa depan dunia adalah taruhannya.

Tapi kenapa?

Kenapa setelah kita menang, lo malah berbalik?

Kenapa lo yang idealis, selalu menyemangati, dan paling pantang menyerah, sekarang mengkhianati kepercayaan gue, temen-temen seperjuangan kita, dan masyarakat dunia!

Gue bingung.

Gue heran.

Gue frustasi.

Gue udah gak tahan lagi.

Pikiran-pikiran semacam itu, tak henti-hentinya menggema dalam kepala, membesar dan mengecil mengikuti irama ayunan pedang di tangan, yang walau udah gue tebaskan puluhan, ratusan kali, tetap saja gagal menyentuh secuil pun sasarannya.

Aah… keahlian pedang dan bela diri lo yang gak ada tandingannya, ditambah dengan pikiran lo yang selalu dingin walau hati berkobar menyala, memang adalah salah satu sebab utama, kenapa kita merasa aman menyerahkan nasib sama lo.

Tapi sekarang semua kepercayaan itu berbalik.

Hancur.

Badan gue panas, terbakar oleh rasa marah dan kesal terhadap lo.

Tapi di saat yang bersamaan, badan gue juga dingin membeku, tenggelam dalam kutub kekecewaan, kehampaan, dan keputusasaan.

Rasanya, bernafas pun sulit.

Sesak.

Gue udah gak kuat lagi.

Serangan gue berhenti. Nafas gue terengah-engah, sementara pedang tertancap di tanah.

Mungkin, akan lebih baik kalau gue menyerah aja. Melemparkan tanggung jawab berat ini ke orang lain.

Lagian, dibunuh oleh orang yang paling gue sayang di seluruh dunia, kedengerannya… gak terlalu buruk.

Dan juga, gue… masih ingin percaya, percaya sama lo…

Tapi…

Tapi…

Tapi…

…Gue gak bisa melakukan itu!

Gue mencabut pedang dan mulai menyerang bertubi-tubi dengan gerakan yang lebih tajam dan berbahaya.

Kalau lo menang, semua, semua yang telah kita perjuangkan selama ini akan musnah. Hasil dari jerih payah gue, lo, dan temen-temen seperjuangan kita, akan musnah!

Gue gak mau, gue gak mau itu terjadi!

Akan gue pastikan itu gak terjadi, dan gak akan pernah terjadi!

*Srat!*

Untuk pertama kalinya, pedang gue berhasil menyobek diri lo. Darah merah pun mulai mengalir. Lo berhenti bergerak.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, gue maju menyerang. Tapi…

…Gue berhenti. Selangkah di depan lo, gue berhenti. Tenggelam dalam rasa nostalgia yang tiba-tiba menyelimuti seluruh badan gue.

Gue inget, waktu pertama kali kita ketemu, lo juga tersobek di tempat yang sama persis, karena melindungi gue dari tusukan penjahat.

Setelah itu, entah kenapa kita sering ketemu secara kebetulan. Di kelas lah, di jalan lah, dan yang paling konyol, waktu lo tiba-tiba jatuh nimpa gue karena lompat dari pohon, percaya kalau sebenernya lo punya kekuatan tersembunyi buat terbang. Gue gak bisa menahan senyum setiap kali mengingatnya.

Sehabis itu, kita mulai sering main bareng, ngelakuin segala macem hal. Dari menolong orang tua yang kecurian, tapi ternyata dia adalah penipu dan seluruh uang kita hilang. Balapan lari keliling kota yang akhirnya badan kita sakit semua esok harinya dan harus bolos kelas. Sampai nangis paling deras waktu nonton drama dan diketawain sama temen-temen yang lain.

Main bersama. Malu bersama. Berusaha bersama. Merayakan bersama. Iseng bersama. Kesal bersama. Tertawa bersama. Menangis bersama.

Sudah tak terhitung hal yang kita lakukan bersama.

Dan sewaktu lo menyatakan cinta. Gue pikir, takdir kita adalah untuk bersama selamanya. Dan gue bersumpah, kalau gue gak akan membiarkan orang yang gue cintai ini, tertimpa marabahaya sekecil apapun, gak akan.

Sekuat tenaga akan gue curahkan untuk mencegahnya, dan gue bakal ngorbanin diri gue sendiri kalau perlu.

Tapi sekarang…

Darah merah mengucur dari badan lo, makin cair karena tercampur air hujan.

Wajah lo masih datar, mata lo tetap dingin gak peduli. Tapi gue tau…

Gue tau… kalau luka di badan lo itu rasanya sakit banget.

Sebabnya, waktu  gue ngebalut luka yang sama persis sehabis kita berjumpa untuk pertama kalinya, lo teriak-teriak gak karuan, menjerit tiap kali sedikit aja kesentuh lukanya, dan akhirnya baru bersedia diam menahan sakit setelah tetangga datang marah-marah, berisik katanya.

Karenanya, gue tau, gue tau kalau saat ini lo sedang menahan perih yang tak terkira.

Dan yang menyebabkannya…

Yang menyebabkannya…

…Adalah gue.

………….

*Clang*

Pedang gue lepas dari tangan dan jatuh begitu saja.

Air mata yang hampir berhenti, kembali mengalir deras. Sebegitu deras hingga hujan lebat pun tak mampu menyamarkannya sama sekali.

Di momen ini, lo mengangkat pedang dengan kedua tangan, bersiap melancarkan serangan penghabisan.

Aaah… gue udah gak peduli lagi. Biarlah gue pergi dari dunia ini… Biarlah semuanya musnah… Biarlah dunia kacau… Yang penting… gue gak harus bertarung sama lo…

Gue tersenyum, agar wajah terakhir gue yang terukir di wajah lo, adalah wajah ceria. Supaya lo tau, kalau gue… sama sekali gak dendam, atau benci sama lo. Sama sekali enggak.

Sebaliknya, gue mau mengucapkan sesuatu.

Terima kasih…

Terima kasih banyak udah mewarnai hidup gue yang kosong ini…

Bertemu lo… adalah anugrah terbesar dalam hidup gue.

Gue memejamkan mata, mempersiapkan diri untuk menghembuskan nafas terakhir sambil berdoa, diselingi isak tangis.

Ya Tuhan, aku memohon… jadikanlah hidupnya… bahagia, lancar, tak kurang sesuatu apapun. Dan alangkah baiknya… jika Engkau… berkenan mempertemukan dia… dengan seseorang… yang lebih baik… dari pada diriku…

*Cras!*

(Selesai)

Latar belakang dan akhir ceritanya diimajinasikan sendiri ya~

Tapi sebenernya ini cuma eksperimen yang berangkat dari pertanyaan “Sebenernya cerita yang pakai gue-lo itu bisa menyentuh gak sih?”. Oh iya, cerita ini juga dalam rangka mengetes kemampuan menulis tanpa dialog.

Jadi? Menurut anda kira-kira menyentuh gak?

Iklan

One thought on “Kenapa?

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: