Formulir Masa Depan

Aaah… bingung…

Di depanku terhampar sebuah kertas, formulir yang harus kuisi. Tadi pagi wali kelasku membagikan formulir-formulir ini ke anak sekelas, dalam rangka survei masa depan katanya.

Dalam formulir ini, ada pertanyaan-pertanyaan, isian, dan bahkan essai yang harus diisi. Semacam ‘Apa motivasi hidup anda?’, ‘Universitas dan fakultas yang ingin anda masuki setelah lulus SMA adalah…’, dan ‘Tuliskan rencana masa depan anda di bawah ini’ lah.

Jujur saja, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini belum kupikirkan sama sekali.

Kenapa juga mereka ingin tahu hal-hal begini sih? Tahu gak tahu pun gak akan ada bedanya.

Merepotkan.

Inti dari formulir itu sebenarnya ada tiga.

Yang pertama adalah ‘rencana masa depan’.

Huh… buat apa punya rencana masa depan? Memangnya punya rencana menjamin rencana itu akan terwujud? Aneh-aneh saja sekolah zaman sekarang.

Aku sendiri, lebih suka mengalir seperti air. Menyerahkan jalan hidupku pada takdir. ‘Sekarang ya sekarang, nanti ya nanti’ adalah salah satu motto hidupku.

Tapi aku yakin, suatu hari nanti pasti aku akan sukses.

Berpikir positif itu penting.

[Inti Jawaban Poin 1 – Tidak butuh]

Nah, poin kedua dari formulir itu adalah ‘cita-cita’.

Mmm… cita-cita ya? Sudah lama gak dengar kata itu.

Waktu masih kecil sih, aku bilang cita-citaku mau jadi presiden, tapi sekarang kayaknya gak mungkin deh.

Kalau begitu, apa ya cita-citaku?

Oh iya, ‘itu’ juga termasuk cita-cita. Kutulis ‘itu’ aja deh.

[Inti Jawaban Poin 2 – Orang kaya]

Yang terakhir, motivasi… hidup?

Oi oi, ini pertanyaan gak salah cetak?

Bukannya ini pertanyaan yang biasa ditanyain guru BK pada muridnya yang baru gagal bunuh diri ya?

Kecurigaanku terbukti, sekolah zaman sekarang memang sudah aneh.

Tapi pertanyaan aneh ini sekali pun, harus tetap kuisi jawabannya.

Kalau begitu, apa ya motivasi hidupku?

Motivasi hidup ya…

…bukannya itu gak perlu ditanyain lagi?

[Inti Jawaban Poin 3 – Hidup bahagia]

OK, formulirnya selesai diisi. Tinggal dikumpulin nanti lewat ketua kelas.

Sekarang, aku penasaran jawaban orang lain apa. Lihat-lihat dulu deh, siapa tahu aku bisa mendapat inspirasi berharga.

Sekarang memang sedang waktu istirahat, tapi ada beberapa anak yang tetap tinggal di kelas, memanfaatkan waktu berharga ini untuk mengisi formulir yang harus dikumpulkan sebelum pulang sekolah – seperti aku.

Untuk memulai, kuintip teman sebangkuku yang lagi mengisi formulirnya.

[Fakultas yang ingin dimasuki – Fakultas Kedokteran]

“Apa liat-liat?” Ujar sang teman sebangku bahkan sebelum pikiranku sempat berkomentar, sambil secara refleks mengubah posisi badan, tangan, dan formulirnya agar pandangan mataku tidak dapat melihatnya.  Cewek cantik berambut panjang ini memang dikenal sinis dan tak bersahabat.

“Enggak papa, gue cuma penasaran aja. Lo mau masuk FK?”

“Iya. Emang kenapa? Gak suka?”

Orang lain mungkin sudah akan kesal diperlakukan begitu, tetapi aku sudah terbiasa menerima respon-respon semacam ini setelah duduk sebangku selama sebulan lebih dengannya (susunan tempat duduk ditentukan oleh wali kelas kami).

“Suka-suka aja kok. Lo kenapa pengen jadi dokter? Mau jadi kaya?” Ucapku dengan santai, bermaksud basa-basi.

–Tapi nampaknya, kalimatku itu menginjak ranjau darat.

Mendadak, ia menatapku dengan tajam. Wajahnya yang mempesona kalau saja dia diam tenang sekarang diwarnai ekspresi marah.

Kukira selanjutnya ia akan membentakku atau sejenisnya, namun tak disangka-sangka, ia malah menghela nafas panjang dan melanjutkan mengisi formulirnya.

“Umm, kalo gue salah ngomong, gue minta maaf deh.”

“Ya udah, gue maafin.” Jawabnya dengan judes. Matanya tetap terpaku pada formulir itu tanpa memalingkannya sedikit pun ke lawan bicaranya.

“Oi, jangan gitu dong. Gue serius nih minta maafnya. Lagian, lo kenapa marah sih?”

Kali ini, pulpennya berhenti bergerak.

Ia lalu menghirup nafas panjang berkali-kali, sampai ekspresi marahnya mereda perlahan, sebelum akhirnya menghadap ke arahku.

“Lo udah selesai ngisi formulirnya kan? Boleh gue liat sebentar?”

“I-Iya boleh.”

Aku masih tak mengerti apa hubungan sebab kemarahannya dengan isi formulirku, tapi kuberikan saja.

Setelah formulirku tiba di genggamannya, ia mulai membacanya dengan serius, seakan mencermati hurufnya satu per satu.

Semenit kemudian, ia mengembalikan formulir itu ke mejaku, pertanda kalau ia sudah selesai memeriksanya.

Kira-kira penilaian macam apa yang akan keluar dari mulut cewek sinis yang satu ini?

“Sesuai dugaan.”

“A-Apanya yang sesuai dugaan?” Tanyaku heran.

“Hidup lo itu… gak punya tujuan.”

? Apa maksudnya ia mengatakan itu? Kalau saja lawan bicaranya bukan aku, pasti dia sudah mengira kalau cewek ini sedang cari gara-gara.

–Namun, bukan berarti aku mau diam saja menerima vonisnya.

Tetapi persis sebelum protesku terucap, ia sudah melanjutkan ucapannya lagi. Iramanya kesal.

“Lo itu, gue yakin pikiran lo tentang masa depan lo sendiri tuh kayak gini: menikmati masa kuliah, lulus, terus cari kerja yang bagus, jadi kaya, dan hidup bahagia selamanya, ya kan?”

“Gak bisa dibilang salah sih, tapi-“

“Makanya gue bilang sesuai dugaan. Mau tau apa dugaan gue?”

Ekspresi marahnya yang tadi mereda, sekarang muncul kembali, bahkan lebih daripada yang tadi. Dan tanpa menunggu konfirmasi dariku, ia langsung meneruskan perkataannya. Dengan nada yang makin lama makin meninggi.

“Dugaan gue itu lo tipe orang yang egois, cuma peduli sama diri sendiri. Sama aja dengan anak-anak yang lain.

Kenapa gue bilang egois? Karena yang lo pikirin – buat sekarang dan masa depan – cuma tentang diri lo dan hanya lo.

Lo sadar gak sih? Kalo di dunia ini, masih banyak orang yang menderita?

Ada puluhan, ratusan juta, mungkin milyaran orang di dunia ini yang kelaparan, tertindas, dan gak punya rumah! Singkat kata, hidup mereka gak layak! Hak mereka dirampas! Dan lo, beserta kebanyakan orang lainnya, cuma mikirin diri kalian sendiri! Masa depan kalian sendiri!

Ketidakadilan terjadi dimana-mana, tapi lo gak tau dan gak mau tau! Kalo lo tau pun, lo tetap gak mau ngapa-ngapain! Bahkan, sekedar bercita-cita untuk mengubahnya aja pun lo enggak!

Lo cuma mau hidup enak, santai, gak perlu susah-susah mikirin penderitaan orang lain!

Lo tuh sebenernya punya hati gak sih!?”

Dan dengan nada yang sedih, sama sekali berbeda dari kalimat-kalimat sebelumnya, ia menutup perwujudan luapan perasaannya.

“…lo itu… kalian itu… manusia… apa bukan sih…?”

Nafasnya terisak. Matanya berkaca-kaca seakan tangis bisa pecah kapan saja.

Aku kaget.

Benar-benar kaget.

Kata-katanya membuatku merenung.

Tak terbayang sama sekali olehku kalau hal-hal sejenis inilah yang melintas bolak-balik di benaknya.

Ternyata, selama ini dia… memikirkan masalah-masalah dunia. Berbeda denganku dan anak-anak lainnya yang cuma hidup damai setiap hari.

Tiba-tiba aku merasa kecil. Kecil sekali.

Rasanya, kekhawatiran dan kegelisahanku tempo hari tak ada apa-apanya dibanding dia.

Mungkin ini sebabnya, ia selalu sinis dan tak bersahabat terhadap orang lain, karena ia merasa kalau mereka itu egois dan berpikiran sempit.

Dan mungkin itu juga sebabnya, ia marah saat kubilang ia ingin jadi dokter karena mau kaya. Ia benci disamakan dengan orang-orang yang hanya memikirkan diri dan masa depannya sendiri. Tujuannya menjadi dokter pasti tujuan teramat mulia seperti membuka rumah sakit bagi mereka yang tak mampu atau menemukan solusi penyakit yang tidak ada obatnya.

Kalimatnya, mengandung banyak kebenaran. Kebenaran yang sering terlupa oleh orang-orang zaman sekarang, termasuk aku.

Tapi bukan berarti segala perilakunya benar.

Sinis dan tidak bersahabat dengan orang lain tetap saja salah. Tiba-tiba marah kepada orang lain juga salah. Apalagi jika ia ingin mengubah dunia.

Ia masih terlalu sensitif, dan naif.

Mengubah dunia tidak mungkin sendirian dan dengan kepala panas kan?

“Berencana… ya…?” Gumamku pelan.

Aku harus berubah.

Aku, ingin berubah…

Bukan saja agar bisa berdiri di samping gadis yang kusuka ini, tapi juga demi semua orang yang menderita di dunia.

Mungkin, aku berusaha pun dunia tidak akan berubah. Mungkin yang bisa mengubah dunia hanyalah mereka yang bertekad kuat seperti gadis di sebelahku ini.

Walaupun begitu, setidaknya… aku ingin melakukan apa yang kubisa. Sekecil apapun itu, aku yakin tetap akan berarti.

Berpikir positif itu penting.

Akan kumulai dari memperbaiki perilaku gadis ini, dan mengisi ulang formulirku.

[Inti Jawaban Poin 1 – Akan segera dibuat]

[Inti Jawaban Poin 2 – Presiden]

[Inti Jawaban Poin 3 – Mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik]

(Selesai)

Iklan

One thought on “Formulir Masa Depan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: